Monday, April 22, 2013

APAKAH PENCIPTAAN ITU ?

Oleh: J Krishnamurti

Apakah asal mula dari seluruh eksistensi, mulai dari sel-sel yang paling kecil sampai otak yang paling rumit? Apakah ada awal dari semua ini, dan apakah ada akhir dari semua ini? Apakah penciptaan itu? Untuk menggali ke dalam sesuatu yang sama sekali tidak diketahui, tidak terbayangkan sebelumnya, tanpa terperangkap dalam ilusi sentimental dan romantik apa pun, harus ada kualitas otak yang sepenuhnya bebas dari seluruh keterkondisiannnya, dari seluruh pemrogramannya, dari setiap macam pengaruh, dan dengan demikian sangat peka dan sangat aktif. Mungkinkah itu? Mungkinkah mempunyai batin, otak, yang luar biasa hidup, tak terperangkap kerutinan apa pun, bukan mekanis? Apakah kita punya otak yang di situ tidak terdapat ketakutan, tiada kepentingan-diri, tiada kegiatan yang berpusat pada diri? Kalau tidak, ia hidup di bawah bayangannya sendiri sepanjang waktu, ia hidup dalam lingkungan kesukuannya yang terbatas, seperti seekor binatang tertambat pada sebuah tiang.

Sebuah otak harus punya ruang. Ruang bukan hanya jarak dari sini ke sana, ruang menyiratkan berada tanpa pusat. Jika Anda punya pusat dan Anda bergerak dari pusat ke tepi, betapa pun jauhnya tepi itu, itu masih terbatas. Jadi, ruang mengisyaratkan tiadanya pusat dan tiadanya tepi, tiada perbatasan. Punyakah kita otak yang tidak termasuk ke dalam apa pun, tak melekat kepada apa pun --kepada pengalaman, kesimpulan, harapan, cita-cita-- sehingga ia sungguh-sungguh bebas sepenuhnya? Jika Anda memikul beban, Anda tidak bisa berjalan jauh. Jika otak kasar, vulgar, berpusat pada diri, ia tidak bisa mempunyai ruang yang tak terbatas. Dan ruang mengisyaratkan --kita menggunakan kata ini dengan sangat berhati-hati-- kekosongan.

Kita mencoba menemukan apakah mungkin hidup di dunia tanpa rasa takut apa pun, tanpa konflik apa pun, dengan rasa welas asih yang hebat, yang menuntut banyak kecerdasan. Anda tidak bisa memiliki welas asih tanpa kecerdasan. Dan kecerdasan itu bukan kegiatan pikiran. Kita tidak bisa penuh welas asih jika kita melekat kepada ideologi tertentu, kepada kesukuan tertentu yang sempit, atau kepada konsep keagamaan apa pun, oleh karena hal-hal itu membatasi. Dan welas asih hanya bisa datang --ada-- apabila terdapat pengakhiran kesedihan, yang adalah pengakhiran gerakan yang berpusat pada diri.

Jadi ruang mengisyaratkan kekosongan (emptiness), bukan apa-apa (nothingness). Dan oleh karena tidak ada apa-apa yang dibentuk oleh pikiran, ruang itu mempunyai energi yang hebat. Jadi otak harus memiliki kualitas kebebasan penuh dan ruang. Artinya, kita harus sebagai bukan apa-apa (nothing). Kita semua merasa sebagai sesuatu: analis, psikoterapis, dokter. Itu boleh-boleh saja, tetapi apabila kita adalah terapis, ahli biologi, teknisi, identifikasi-identifikasi seperti itu membatasi keutuhan otak.

Hanya apabila ada kebebasan dan ruang, kita dapat bertanya apa meditasi itu. Hanya apabila kita telah meletakkan landasan ketertiban dalam hidup, kita dapat bertanya apakah meditasi sejati itu. Tidak mungkin ada ketertiban bila ada ketakutan. Tidak mungkin ada ketertiban bila ada konflik apa pun. Rumah-batin kita harus berada dalam ketertiban sepenuhnya, sehingga terdapat kemantapan kuat, tanpa celoteh ke mana-mana. Terdapat kekuatan besar di dalam kemantapan itu. Jika rumah tidak tertib, meditasi Anda tidak banyak berarti. Anda bisa membuat berbagai ilusi, berbagai pencerahan, berbagai disiplin harian, semua itu masih terbatas, khayal, oleh karena datang dari ketidaktertiban. Semua ini logis, waras, rasional; itu bukan sesuatu yang diciptakan oleh pembicara untuk Anda terima. Bolehkah saya gunakan istilah ‘ketertiban tak terdisiplin’? Kalau tidak ada ketertiban yang bukan ketertiban terdisiplin, meditasi menjadi amat dangkal dan tanpa arti.

Apakah ketertiban itu? Pikiran tidak bisa menciptakan ketertiban psikologis oleh karena pikiran itu sendiri adalah ketidaktertiban, oleh karena pikiran berdasar pada pengetahuan, yang berdasar pada pengalaman. Semua pengetahuan terbatas, dan dengan demikian pikiran juga terbatas, dan apabila pikiran mencoba menciptakan ketertiban ia menghasilkan ketidaktertiban. Pikiran menciptakan ketidaktertiban melalui konflik antara ‘apa adanya’ dengan ‘apa seharusnya’, apa yang aktual dengan apa yang teoretis. Tetapi hanya ada apa yang aktual, bukan apa yang teoretis. Pikiran memandang kepada apa yang aktual dari sudut pandang yang terbatas, dan dengan demikian tindakannya mau tidak mau menciptakan ketidaktertiban. Apakah kita melihat ini sebagai kebenaran, sebagai hukum, atau sekadar suatu ide? Misalkan saya serakah, iri hati; itulah ‘apa adanya’; lawannya tidak ada. Tetapi lawannya diciptakan oleh manusia, oleh pikiran, sebagai cara untuk memahami ‘apa adanya’ dan juga sebagai cara untuk lari dari ‘apa adanya’. Tetapi hanya ada ‘apa adanya’, dan bila Anda melihat ‘apa adanya’ tanpa lawannya, maka penglihatan itu sendiri membawa ketertiban.

Rumah kita harus tertib, dan ketertiban ini tidak bisa dihasilkan oleh pikiran. Pikiran menciptakan disiplinnya sendiri: lakukan ini, jangan lakukan itu; ikuti ini, jangan ikuti itu; ikuti tradisi, jangan ikuti tradisi. Pikiran adalah penuntun yang melalui itu kita berharap akan menghasilkan ketertiban, tetapi pikiran itu sendiri terbatas, dengan demikian ia pasti akan menciptakan ketidaktertiban. Jika saya terus-menerus mengulang, saya seorang Inggris, atau saya seorang Prancis, atau saya seorang Hindu, atau seorang Buddhis, kesukuan seperti itu sangat terbatas, kesukuan seperti itu menyebabkan kekacauan besar di dunia. Kita tidak menggali sampai ke akarnya dan mengakhiri kesukuan; kita malah mencoba menciptakan perang yang lebih baik. Ketertiban hanya bisa muncul apabila pikiran, yang diperlukan dalam bidang-bidang tertentu, tidak diberi tempat di dunia psikologis. Dunia itu sendiri tertib bila pikiran tidak ada.

Penting untuk memiliki otak yang sama sekali hening. Otak mempunyai iramanya sendiri, aktif tanpa henti, berceloteh dari satu topik ke topik lain, dari satu pikiran ke pikiran lain, dari satu hubungan (association) ke hubungan lain, dari satu keadaan ke keadaan lain. Ia terus-menerus sibuk. Biasanya kita tidak menyadarinya, tetapi bila kita sadar (aware) tanpa pilihan apa pun, sadar-tanpa-pilihan (choicelessly aware) terhadap gerakan ini, maka kesadaran (awareness) itu sendiri, perhatian (attention) itu sendiri, mengakhiri celoteh itu. Harap lakukan ini, dan Anda akan melihat betapa sederhananya semua ini.

Otak harus bebas, memiliki ruang dan keheningan psikologis. Anda dan saya berbicara satu sama lain. Kita menggunakan pikiran karena kita berbicara menggunakan bahasa. Tetapi berbicara dari keheningan ... Harus ada kebebasan dari kata. Maka otak sama sekali hening, sekalipun ia mempunyai iramanya sendiri.

Lalu apakah penciptaan, apakah awal dari semua ini? Kita menyelidik ke dalam asal mula semua kehidupan, bukan hanya kehidupan kita, tetapi kehidupan setiap benda yang hidup: ikan paus di samudra yang dalam, ikan lumba-lumba, ikan yang kecil, sel-sel yang amat kecil, alam yang luas, keindahan seekor harimau. Dari sel yang paling kecil sampai manusia yang paling rumit--dengan segala temuannya, dengan segala ilusinya, dengan takhayulnya, dengan pertengkarannya, dengan perangnya, dengan keangkuhannya, kevulgarannya, dengan aspirasinya yang hebat dan depresinya yang dalam--apakah asal mula semua ini?

Nah, meditasi berarti sampai ke sini. Bukan berarti Anda yang sampai ke sini. Di dalam keadaan diam itu, di dalam keheningan itu, di dalam ketenangan yang mutlak itu, adakah suatu awal? Dan jika ada awal, harus ada akhir. Apa yang memiliki sebab harus berakhir. Di mana ada sebab, tentulah ada akhir. Itulah hukum, itu alami. Jadi adakah sebab-musabab bagi penciptaan manusia, penciptaan seluruh cara hidup? Adakah awal dari semua ini? Bagaimana kita menemukannya?

Apakah penciptaan itu? Bukan dari si pelukis, bukan dari si penyair, bukan pula dari orang memahat sesuatu dari batu pualam; semua itu adalah benda-benda yang terwujud (manifested). Adakah sesuatu yang tidak terwujud? Adakah sesuatu yang, oleh karena tidak terwujud, tidak mempunyai awal dan akhir? Kita semua adalah perwujudan (manifestations). Bukan dari sesuatu yang ilahi atau sesuatu yang lain, kita adalah hasil dari ribuan tahun apa yang dinamakan evolusi, pertumbuhan, perkembangan, dan kita juga berakhir. Apa yang mewujud selalu dapat dimusnahkan, tetapi apa yang tidak mewujud tidak punya waktu.

Kita bertanya, adakah sesuatu yang di luar waktu. Itu telah diselidiki oleh para filsuf, ilmuwan dan orang-orang agama, untuk menemukan apa yang di luar ukuran manusia, yang di luar waktu. Oleh karena, jika kita dapat menemukannya, atau melihatnya, itulah kekekalan (immortality). Itu di luar kematian. Manusia telah mencari ini, dengan berbagai cara, di berbagai penjuru dunia, melalui berbagai kepercayaan, oleh karena bila kita menemukan, merealisasikan itu, maka hidup tidak mempunyai awal dan akhir. Ia ada di luar semua konsep, di luar semua harapan. Itu sesuatu yang mahaluas.

Sekarang, turun kembali membumi. Lihat, kita tidak pernah memandang hidup, hidup kita sendiri, sebagai suatu gerakan hebat dengan kedalaman besar, keluasan. Kita telah memerosotkan hidup kita menjadi sesuatu yang kecil, remeh. Dan hidup adalah hal paling suci yang ada. Membunuh orang adalah kengerian yang paling tidak religius, atau menjadi marah, keras terhadap orang lain.

Kita tidak pernah melihat dunia sebagai keutuhan oleh karena kita begitu terpecah-belah, begitu amat terbatas, remeh. Kita tidak pernah memiliki rasa keutuhan, di mana benda-benda di laut, benda-benda di bumi, alam sekitar, langit, alam semesta, adalah bagian dari kita. Bukan dikhayalkan--Anda bisa melambung dalam suatu khayalan dan membayangkan bahwa Anda adalah alam semesta, lalu Anda menjadi sinting. Tetapi patahkan kepentingan kecil yang berpusat pada diri ini, jangan berhubungan dengan itu lagi, dan dari situ Anda bisa bergerak tanpa batas.

Dan meditasi adalah itu, bukan duduk bersila, atau berdiri di atas kepala Anda, atau melakukan apa pun yang Anda suka, melainkan memiliki rasa keutuhan dan kesatuan sempurna dari kehidupan. Dan itu hanya bisa datang apabila terdapat cinta dan welas asih.

Salah satu kesulitan kita ialah bahwa kita telah mengaitkan cinta dengan kenikmatan, dengan seks, dan bagi kebanyakan dari kita cinta juga berarti kecemburuan, kecemasan, kepemilikan, kelekatan. Itulah yang kita namakan cinta. Apakah cinta kelekatan? Apakah cinta kenikmatan? Apakah cinta keinginan? Apakah cinta lawan dari kebencian? Jika ia lawan dari kebencian, maka ia bukan cinta. Semua lawan mengandung lawannya. Ketika saya mencoba untuk menjadi berani, keberanian itu lahir dari ketakutan. Cinta tidak mungkin punya lawan. Cinta tidak mungkin ada bila ada kecemburuan, ambisi, keagresifan.

Dan di mana ada sifat cinta, dari situ muncullah welas asih. Bila ada welas asih itu, ada kecerdasan--tetapi itu bukan kecerdasan dari kepentingan diri sendiri, atau kecerdasan pikiran, atau kecerdasan dari pengetahuan yang banyak. Welas asih tidak ada kaitannya dengan pengetahuan.

Hanya dengan welas asih ada kecerdasan yang memberi manusia rasa aman, kemantapan, kekuatan yang amat besar. ***

[Dari: “This Light In Oneself – True Meditation”, oleh J. Krishnamurti, 1999, Bab 9]
Diterjemahkan oleh Hudoyo Hupudio

No comments: