Friday, May 24, 2013

DAPATKAH BATIN BEBAS DARI RASA TAKUT ?

[Diambil dari buku Andalah Dunia Ini] 

-Jiddu Krishnamurti

CERAMAH: 

Kita mempunyai begitu banyak masalah-masalah yang kompleks; celakanya kita mengandalkan kepada orang-orang lain, ahli-ahli dan spesialis-spesialis, untuk memecahkannya. Agama-agama di seluruh dunia telah memberikan berbagai bentuk pelarian dari masalah-masalah itu. Orang berpikir bahwa ilmu pengetahuan akan menolong untuk memecahkan keruwetan masalah-masalah kemanusiaan ini; bahwa pendidikan akan memecahkannya dan mengakhirinya. Akan tetapi kita melihat bahwa masalah-masalah itu makin bertambah banyak di seluruh dunia, problema-problema itu berlipat ganda dan makin mendesak dan makin kompleks juga, dan agaknya tak kunjung habis. Akhirnya kita menginsyafi bahwa kita tidak dapat tergantung kepada siapapun, baik kepada para pendeta, para sarjana atau para spesialis. Kita harus "berjuang sendiri" karena mereka semua telah gagal; peperangan, pemisah-misahan agama, permusuhan antar manusia, kekejaman-kekejaman, semua itu berlangsung; rasa-takut dan duka yang terus-menerus tetap ada.

Kita melihat bahwa kita harus melakukan perjalanan dari pengertian itu oleh diri sendiri: kita melihat bahwa tidak terdapat "otoritas". Semua bentuk "otoritas" (kecuali, pada suatu tingkat berbeda, otoritas dari para tehnokrat dan para spesialis), telah gagal. Manusia menyusun "otoritas-otoritas" ini sebagai suatu penunjuk jalan, sebagai suatu cara mendatangkan kebebasan, perdamaian, dan karena mereka telah gagal mereka kehilangan arti mereka dan karena itulah terdapat suatu revolusi umum terhadap para "otoritas" itu, baik moril dan kesusilaan (ethical). Segala sesuatu mulai beruntuhan. Kita dapat melihat dalam negara ini, yang masih cukup muda, barangkali barn 300 tahun usianya, bahwa sudah terdapat suatu kebusukan terjadi sebelum tercapai kedewasaan; terdapat ketidak-tertiban, konflik, kekacauan; terdapat rasa-takut dan kedukaan yang tidak dapat dielakkan. Peristiwa-peristiwa lahirlah ini tak dapat tiada memaksa kita untuk menemukan sendiri jawabannya; kita harus menghapus bersih batu tulis itu dan mulai lagi, dengan mengetahui bahwa tidak ada otoritas luar yang akan dapat menolong, tidak ada kepercayaan, tidak ada sanksi agama, tidak ada standar moral — tidak ada apapun yang dapat menolong. Warisan dari masa lalu dengan kitab sucinya, Juru Selamatnya, tidak lagi penting. Kita terpaksa untuk berdiri sendiri, memeriksa, menyelidiki, bertanya- tanya, meragukan segala sesuatu, sehingga batin kita sendiri menjadi bersih; sehingga batin itu tidak lagi dibeban-pengaruhi, tersesat, tersiksa.

Dapatkah sesungguhnya kita berdiri sendirian dan menyelidiki sendiri untuk menemukan jawabannya yang benar ? Dapatkah kita, dalam menyelidiki pikiran kita sendiri, hati kita sendiri yang dibeban-pengaruhi demikian beratnya, bebas secara sempurna — baik didalam alamsadar maupun bawah-radar ?

Dapatkah batin bebas dari rasa-takut? Ini adalah satu di antara soal-soal terpenting dari kehidupan. Mungkinkah batin manusia dapat bebas dari penjangkitan rasa-takut? Marilah kita menyelidikinya, bukan secara abstrak, bukan secara teoritis, melainkan dengan sungguh-sungguh waspada akan rasa-takut kita sendiri, baik lahir maupun batin, baik rasa-takut yang kita sadari maupun rasa-takut yang tersembunyi. Apakah hal itu mungkin ? Kita dapat menyadari rasa-takut jasmani hal itu cukup sederhana. Akan tetapi dapatkah kita waspada akan rasa-takut dilapisan yang lebih dalam, yaitu dibawah-sadar.

Rasa-takut dalam bentuk apapun menggelapkan batin, menyesatkan batin, menimbulkan kebingungan dan keadaan-keadaan neurotik. Di dalam rasa-takut tidak terdapat kejernihan. Dan camkanlah bahwa kita dapat berteori tentang sebab-sebab dari rasa-takut, menganalisanya secara amat cermat, menyelidikinya secara intelektuil, namun pada akhirnya kita masih takut. Akan tetapi jika kita dapat memasuki soal dari rasa-takut ini, sungguh-sungguh waspada akan ini, kemudian barangkali kita dapat bebas dari itu secara menyeluruh.

Terdapat rasa-takut yang disadari : "Saya takut akan pendapat umum"; "Saya bisa kehilangan pekerjaan saya"; "isteri saya boleh jadi melarikan diri"; "saya takut kesepian"; "saya takut tidak dicinta" ; "saya takut mati". Teidapat rasa - takut akan keadaan yang tampaknya menjemukan secara tak berarti dari kehidupan ini, perangkap abadi di mana kita tertangkap; rasa kesal terhadap pendidikan, mencari nafkah dalam sebuah kantor atau sebuah pabrik, melahirkan anak-anak, kesenangan dari sedikit selingan sex dan kedukaan serta kematian yang tak dapat dihindarkan. Semua ini menimbulkan rasa takut, rasa-takut yang disadari. Dapatkah kita menghadapi semua rasa-takut ini, menyelaminya, sehingga kita tidak lagi takut. Dapatkah kita mengesampingkan semua itu dan menjadi bebas ? Jika kita tidak dapat, maka jelas kita hidup dalam suatu keadaan abadi penuh kekhawatiran, rasa bersalah, ketidaktentuan, dengan problema-problema yang makin bertambah dan berlipat ganda.

Maka, apakah rasa-takut itu ? Apakah kita sesungguhnya mengenal rasa-takut, ataukah kita hanya mengetahuinya setelah itu terlewat? Adalah penting untuk menyelidiki hal ini. Apakah pernah berada dalam kontak langsung dengan rasa-takut, atau apakah batin kita begitu terbiasa, begitu terlatih, sehingga ia selalu melarikan diri dan dengan demikian tidak pernah tiba dalam kontak langsung dengan apa yang disebutnya rasa-takut? Adalah cukup berharga jika anda dapat mengambil rasa-takut anda sendiri dan selagi kita menyelaminya bersama barangkali kita dapat mempelajari secara langsung tentang rasa-takut.

Apakah rasa - takut itu ? Bagaimana munculnya ? Apakah adanya struktur dan sifat dari rasa-takut? Kita misalnya merasa takut, seperti telah kita katakan, terhadap pendapat umum; ada beberapa hal terlibat di dalamnya; kita bisa kehilangan pekerjaan dan sebagainya. Bagaimanakah timbulnya rasa-takut ini? Apakah itu akibat dari unsur waktu? Apakah rasa-takut berakhir apabila saya mengetahui sebab dari rasa-takut ? Apakah rasa-takut lenyap melalui analisa, dalam menyelidiki dan menemukan sebabnya? Saya takut akan sesuatu, akan kematian, akan apa yang bisa terjadi esok lusa, atau saya takut akan masa lalu; apakah yang menunjang dan memberi kelanjutan kepada rasa-takut ini ? Kita boleh jadi telah melakukan sesuatu yang salah, atau kita boleh jadi telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan, semua itu terjadi dimasa lalu; atau kita takut akan apa yang mungkin akan terjadi, kesehatan yang buruk, penyakit, kehilangan pekerjaan, semua yang terjadi dimasa depan. Maka terdapatlah rasa takut dari masa lalu dan terdapat rasa-takut dari masa depan. Rasa-takut dari masa lalu adalah takut akan sesuatu yang telah sungguh terjadi dan rasa-takut dari masa depan adalah takut akan sesuatu yang mungkin akan terjadi, suatu kemungkinan.

Apakah yang menunjang dan memberi kelanjutan kepada rasa-takut dari masa lalu dan juga rasa-takut dari masa depan ? Sudah pasti itu adalah pikiran, —pikiran tentang apa yang telah dilakukan di masa lalu, atau tentang bagaimana suatu penyakit tertentu telah mendatangkan penderitaan dan kita takut akan pengulangan penderitaan itu di masa depan. Rasa-takut ditunjang oleh ingatan, oleh pikiran tentang itu. Pikiran, dalam mernikirkan tentang penderitaan atau kesenangan yang lalu memberikan kelanjutan kepadanya, menunjang dan memeliharanya. Kesenangan atau penderitaan dalam hubungannya dengan masa depan adalah kesibukan dari pikiran.

Saya takut tentang sesuatu yang telah saya lakukan, akibat-akibatnya yang mungkin terjadi di masa depan. Rasa-takut ini ditunjang oleh pikiran. Hal itu cukup jelas. Maka pikiran adalah waktu — secara batiniah. Pikiran menimbulkan waktu batiniah yang berbeda dengan waktu kronologis. (Kita tidak sedang bicara tentang waktu kronologis).

Pikiran, yang menyusun waktu sebagai kemarin, sekarang dan esok, melahirkan rasa-takut. Pikiran mencipta waktu berselang antara sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Pikiran mengabadikan rasa-takut melalui waktu batiniah; pikiran adalah pokok pangkal dari rasa-takut; pikiran adalah sumber dari duka. Apakah kita menerima ini ? Apakah kita sungguh-sungguh melihat sifat dari pikiran, bagaimana cara kerjanya, bagaimana fungsinya dan bagaimana ia menyusun seluruh struktur dari masa lalu, sekarang dan masa depan ? Apakah kita melihat bahwa pikiran, melalui analisa, menemukan sebab-sebab dari rasa-takut, yang memakan waktu, tidak dapat menghancurkan rasa-takut ? Di dalam waktu berselang antara sebab dari takut dan pengakhiran takut terdapat tindakan dari rasa-takut. Hal itu seperti seseorang yang keras dan telah mencipta ideologi dari tanpa-kekerasan; dia berkata “saya akan menjadi bebas kekerasan" akan tetapi sementara itu dia menyebar benih-benih kekerasan. Maka, jika kita menggunakan waktu — waktu ialah pikiran — sebagai jalan untuk membebaskan diri dari rasa-takut, kita takkan dapat mengakhiri rasa-takut. Rasa-takut, tidak dilenyapkan oleh pikiran karena melahirkan rasa-takut.

Maka apa yang harus kita lakukan ? Jika pikiran bukan merupakan jalan keluar dari perangkap rasa-takut ini — harap hal ini dimengerti dengan sangat jelas, bukan secara intelektuil, bukan secara arti kata-katanya belaka, bukan sebagai suatu argumentasi di mana anda setuju atau tidak setuju, rnelainkan sebagai seorang yang berkepentingan, terlibat dalam persoalan rasa-takut ini, secara mendalam sebagaimana mestinya jika kita benar-benar serius — kemudian, apa yang harus kita lakukan ? Pikiranlah yang bertanggung jawab atas adanya rasa-takut; pikiranlah yang melahirkan rasa-takut dan kesenangan. Jika kita melihat dengan sangat jelas bahwa pikiranlah yang melahirkan perasaan yang hebat dari takut dan bahwa pikiran tidak mungkin melenyapkan rasa-takut ini. Lalu apakah langkah selanjutnya ? Saya harap anda mengajukan pertanyaan ini kepada diri anda sendiri dan tidak menanti kepada saya untuk menjawabnya. Jika anda tidak menanti kepada saya untuk menjawabnya, maka anda menghadapinya sendiri, hal itu merupakan suatu tantangan dan anda harus menjawabnya. Jika anda menjawab tantangan itu dengan tanggapan-tanggapan lama, lalu di manakah anda ? — anda masih saja takut. Tantangan itu adalah baru, seketika : pikiran telah melahirkan rasa-takut dan pikiran tak mungkin dapat mengakhiri rasa-takut; apa yang akan anda lakukan?

Pertama-tama, apabila kita berkata “Saya telah mengerti akan seluruh sifat dan susunan dari pikiran", apakah yang kita maksudkan dengan itu ? Apa yang kita maksudkan dengan "saya mengerti", "saya telah mengerti itu", "saya telah melihat sifat dari pikiran" ? Dalam keadaan apakah adanya batin yang berkata, "saya telah mengerti"? 
Harap mengikuti dengan cermat, janganlah mempertahankan pendapat apapun. Kita bertanya : apakah pikiran mengerti ? Anda menceritakan sesuatu kepada saya, misalnya anda menggambarkan keruwetan kehidupan modern secara cermat dan teliti, dan saya berkata, "saya telah mengerti", tidak hanya penggambarannya melainkan isinya, kedalamanya, sehingga saya melihat betapa manusia yang tertawan di dalamnya berada dalam keadaan yang gugup, neurotik, mengerikan, dan sebagainya. Saya telah mengerti dengan perasaan, dengan syaraf-syaraf saya, dengan telinga saya, segalanya, sehingga saya tidak lagi tertawan di dalamnya. Hal itu adalah seperti ketika saya mengerti bahwa se√™kor ular cobra adalah berbahaya — lalu, selesai, saya tidak mau mendekatinya. Tindakan saya jika saya bertemu dengannya akan sama sekali berbeda setelah saya sekarang mengerti. 

Nah, apakah kita berada dalam keadaan pengertian akan sifat dari pikiran dan hasil buatan pikiran, yaitu rasa - takut dan kesenangan ? Apakah kita telah menangkapnya? Apakah kita melihat, secara sungguh-sungguh, bukan secara teoritis atau kata-katanya belaka atau secara intelektuil saja bagaimana pikiran kerjanya ? Atau, apakah saya masih bersama dengan penggambarannya, apakah saya masih bersama argumentasinya, bersama dengan urutan logika, dan bukan dengan faktanya? Jika saya hanya puas dengan penggambarannya saja, dengan keterangan arti kata-katanya belaka, maka berarti saya hanya bermain-main dengan kata-kata saja. Apabila penggambarannya menuntun saya kepada hal yang digambarkannya terdapatlah pengamatan mendalam terhadap itu ; kemudian terdapatlah suatu tindakan yang sangat berbeda. (Hal itu seperti seorang lapar yang menginginkan makanan, bukan suatu penggambaran dari makanan atau kesimpulan tentang apa yang akan terjadi jika dia makan; dia ingin makan).

Apabila kita melihat betapa pikiran melahirkan rasa-takut, lalu apa yang terjadi ? Apabila kita kelaparan dan seseorang menggambarkan betapa menyenangkan makanan itu, apakah yang kita lakukan, apakah tanggapan kita ? Kita akan berkata, “Jangan menggambarkan makanan kepada saya, berikan makanan kepada saya". Tindakan itu di situ langsung, bukan teoretis. Demikianlah apabila kita berkata, “Saya mengerti", hal itu berarti bahwa terdapat gerakan belajar yang terus-menerus tentang pikiran dan rasa-takut dan kesenangan; dari gerakan yang terus-menerus ini kita bertindak ; kita bertindak justru dalam gerakan belajar itu. Apabila terdapat keadaan mempelajari tentang rasa-takut seperti itu maka terdapatlah pengakhiran dari rasa-takut.

Terdapat rasa-takut yang tak pernah disingkapkan oleh batin, tersembunyi, rahasia. Bagaimanakah batin yang sadar dapat mengungkapnya? Batin yang sadar menerima isyarat-isyarat dari rasa-rasa takut itu melalui mimpi; apabila kita mendapatkan mimpi-mimpi ini, apakah mimpi-mimpi itu harus ditafsirkan ? Karena kita tidak dapat mengerti sendiri secara mudah boleh jadi kita mendatangkan seorang penafsir dari luar, akan tetapi dia akan menafsirkannya sesuai dengan metode atau spesialisasinya. Dan terdapat mimpi-mimpi yang pada saat kita memimpikannya, kita menafsirkannya pula.

Mengapa kita harus bermimpi? Para spesilalis mengatakan bahwa kita harus bermimpi atau kita akan menjadi gila; akan tetapi Saya sama sekali tidak yakin bahwa kita harus bermimpi. Mengapa kita tidak bisa, di waktu siang harinya, terbuka terhadap isyarat-isyarat dan pemberitahuan-pemberitahuan dari bawah-sadar, sehingga kita tidak mimpi sama sekali ? Selagi pergulatan yang terus-menerus dari mimpi ini berlangsung terus dalam tidur, batin kita tidak pernah hening, tidak pernah menjadi segar, tidak pernah menjadi baru. Tidak dapatkah batin di waktu siang harinya begitu terbuka, begitu awas, terjaga dan--waspada, sehingga isyarat-isyarat dan pemberitahuan-pemberitahuan dari rasa-takut yang tersembunyi dapat muncul keluar, dapat diamati dan diresapi?

Melalui kewaspadaan, melalui perhatian di waktu siang harinya, dalam pernbicaraan, dalam perbuatan, dalam segala sesuatu yang terjadi, maka rasa-takut yang tersembunyi dan terbuka dapat dilihat; maka apabila anda tidur terdapatlah tidur yang tenang sempurna, tanpa suatu mimpi dan pada keesokan paginya batin bangun dengan segar, muda, suci, hidup. Ini bukan suatu teori — lakukanlah dan anda akan menemukannya.

DIALOG:

PENANYA: 
Bagaimana mungkin untuk membawa keluar rasa-takut yang tersembunyi itu kedalam alam kesadaran ?

KRISHNAMURTI: 
Kita dapat mengamati di dalam diri sendiri jika kita awas, sigap, penuh perhatian, bahwa bawah-sadar adalah, antara hal-hal lain, merupakan tempat penyimpanan masa lalu, warisan ras. Saya terlahir di India, terdidik dalam suatu kelas tertentu sebagai seorang Brahmin, berikut segala prasangka-prasangkanya, ketahyulan-ketahyulannya, kehidupan akhlaknya yang keras dan sebagainya, bersama dengan segala isi kekeluargaan dan ras, tradisi dari sepuluh ribu tahun lebih, kolektif dan perorangan, semua berada di situ dalam bawah-sadar. Itulah yang kita umumnya maksudkan dengan bawahsadar; si spesialis boleh memberinya lain arti akan tetapi sebagai orang-orang awam kita dapat mengamati sendiri. Sekarang, bagaimanakah semua itu dapat diperlihatkan? Bagaimana anda akan lakukan ? Terdapat bawah-sadar dalam diri anda ; jika anda seorang Yahudi terdapatlah segala tradisi, tersembunyi, dari Yudaisme; jika anda seorang Katholik, terdapatlah semua itu, tersembunyi; jika anda seorang Komunis terdapatlah pula dalam cara yang berbeda, dan selanjutnya. Sekarang, tanpa mimpi — ini bukanlah sesuatu teka-teki — bagaimana anda akan membawa semua itu ke tempat terbuka ? 
Jika di waktu siang hari anda awas, waspada akan sernua gerakan pikiran, waspada akan apa yang anda katakan, gerak tangan anda, bagaimana anda duduk, bagaimana anda jalan, bagaimana anda bicara, waspada akan tanggapan-tanggapan anda, maka segala hal yang tersembunyi akan keluar amat mudahnya; dan hal itu tidak akan makan waktu, tidak akan makan waktu berhari-hari, karena anda tidak lagi melawan, anda tidak lagi menggali dengan aktif, anda hanyalah mengamati, mendengarkan. Dalam keadaan waspada itu segala sesuatu terungkap. Akan tetapi jika anda berkata, “Saya akan menahan beberapa hal dan saya akan membuang yang lain", berarti anda setengah tidur. Jika anda berkata, “Saya akan menahan semua “kebaikan” dari Hinduisme atau Yudaisme atau Katholikisme dan membuang yang lain”, jelas bahwa anda masih dibeban-pengaruhi, masih mempertahankan. Maka kita harus membiarkan semua ini keluar, tanpa perlawanan. 

PENANYA: 
Kewaspadaan itu adalah tanpa pilihan ? 

KRISHNAMURTI: 
Jika kewaspadaan itu" memilih", berarti anda menghalanginya. Akan tetapi jika kewaspadaan itu tanpa pilihan, segala sesuatu terungkap segala tuntutan, rasa takut, dan paksaan yang terpendam dan tersembunyi. 

PENANYA: 
Haruskah kita berusaha untuk waspada selama satu jam setiap hari ? 

KRISHNAMURTI: 
Jika saya waspada, jika saya penuh perhatian, untuk satu menit, itu sudah cukup. Kebanyakan dari kita lengah. Waspada akan kelengahan itu adalah perhatian; akan tetapi pemupukan dari perhatian bukanlah perhatian. Saya waspada untuk satu menit lamanya akan segala sesuatu yang berlangsung dalam diri saya, tanpa pilihan, mengamati dengan jelas; lalu saya melewatkan satu jam tanpa perhatian; saya waspada lagi pada akhir waktu sejam itu.

Sumber : wall di fb pak Hudoyo Hupudio

Thursday, May 23, 2013

Masih Tentang Dokter Paulus

Tak terasa, jatah obat 30 hari sudah hampir habis. Waktunya konsultasi ^_^.

Kali ini, lebih banyak cerita. Gara2 saya datang telat.. =setelah dapat nomor 33 *lagi* saya pulang. Datang jam 12-an, eh yang masuk udah nomor 39. Karena aturan-nya yang telat menunggu sampai habis baru masuk sesuai kedatangan, urutan-nya berubah jadi nomor 2 dari belakang :D.

Yang datang.. memang rata2 orang2 yang sakit kista, tumor atau kanker. Tapi banyak juga yang bukan. Salah satu-nya seorang laki2, masih muda umur-nya 30-an lah. Datang dari bandung, sendiri. Orang-nya ceria, suka ngobrol. Karena ngomong-nya keras seperti orang batak pada umum-nya (wkwk jadi kesukuan), sedikit2 pembicaraan-nya terekam. Dia curhat klo sekarang tidak bisa memakan babi. (*saya jadi geli, teringat waktu 2 minggu pertama pantang, ngliat sayur balado terong dan teri atau tumis pare dan tempe ngiler-nya ampun2an *). Terus terdengar klo nanti sebelum pulang akan menumpang mandi di penjual soto sebelah. Dia melanjutkan lagi, klo sakit gagal ginjal dan besok jam 8 pagi jadwal-nya cuci darah. Ini pertama kali-nya ke sini, jadi tidak tahu progress berobat-nya. Tapi di kunjungan pertama, saya bareng dengan seorang bapak2 yang tubuh-nya sudah tidak bisa memproduksi darah merah dan darah putih (=lupa istilah medis-nya). Waktu itu kedatangan ke-2, dan kata-nya setelah sebulan meminum obat badan-nya jauh lebih enak.

Selain sakit gagal ginjal, ada juga yang dulu sinus dan sudah berobat kemana2 (singapura, malaysia, hongkong). Tidak  sembuh2. Waktu ke sini, langsung dibilang "kamu minum obat selama setahun saya jamin pasti sembuh". Dan betul sembuh. Saya diwanti2 untuk tidak lupa meminum obat-nya.

Saya juga sempat ngobrol dengan seorang oma. Oma ini sudah sejak 30 tahun yang lalu berobat, tidak selalu berobat hanya waktu sakit saja. Kata-nya, dulu pasien-nya masih sedikit jadi bisa ngobrol panjang lebar dengan dokter.  O iya, saya tidak tahu oma ini sakit apa, wong cuman bilang bukan kista, tumor juga kanker ^_^.

Begitulah edisi pasien2 dokter Paulus.

Eh ada yang lupa, sedikit curcol... seminggu pertama mengkonsumsi obat, saya diare sepanjang waktu. Sempat terpikir untuk berhenti meminum-nya. Waktu saya tanya.. ternyata wajar, karena itu membuang racun2 dalam tubuh.

Monday, May 06, 2013

APAKAH KEBEBASAN ITU?

Oleh KRISHNAMURTI

Banyak filsuf telah menulis tentang kebebasan. Kita bicara tentang kebebasan -- kebebasan untuk melakukan apa pun yang kita sukai, mempunyai pekerjaan apa pun yang kita inginkan, kebebasan untuk memilih seorang laki-laki atau perempuan, kebebasan untuk membaca buku apa pun, atau kebebasan untuk tidak membaca buku apa pun. Kita bebas, dan apa yang kita lakukan dengan kebebasan itu? Kita menggunakan kebebasan itu untuk mengekspresikan diri kita, melakukan apa yang kita sukai. Semakin lama kehidupan ini semakin permisif -- Anda boleh berhubungan seksual di taman terbuka.

Kita memiliki kebebasan macam apa pun, dan apa yang kita lakukan dengan itu. Kita mengira bahwa bila ada pilihan, kita memiliki kebebasan. Saya bisa pergi ke Italia atau Prancis; suatu pilihan. Tetapi apakah pilihan memberikan kebebasan? Mengapa kita harus memilih? Jika Anda sangat jernih, melihat dengan murni, tidak ada pilihan. Dari situ datanglah tindakan benar. Hanya jika ada keraguan dan ketidakpastian maka kita mulai memilih. Jadi, kalau boleh saya mengatakannya, pilihan menghalangi kebebasan.

Negara-negara totaliter tidak memiliki kebebasan sama sekali, oleh karena mereka mempunyai gagasan bahwa kebebasan menyebabkan kemerosotan manusia. Oleh karena itu, mereka mengendalikan, menekan -- Anda tahu apa yang terjadi di sana.

Jadi apakah kebebasan itu? Apakah itu berdasarkan pilihan? Apakah itu melakukan apa yang kita sukai? Sementara psikolog berkata, jika Anda merasakan sesuatu, jangan ditekan, ditahan atau dikendalikan, alih-alih ekspresikan langsung. Dan kita melakukanya dengan sangat baik, terlalu baik. Dan ini juga dinamakan kebebasan. Apakah melempar bom itu kebebasan? -- Lihatlah bagaimana kita memerosotkan makna kebebasan.

Apakah kebebasan terletak di luar sana, atau di dalam sini? Di mana Anda mulai mencari kebebasan? Di dunia luar, di mana Anda mengekspresikan apa pun yang Anda sukai, apa yang dinamakan kebebasan individual; ataukah kebebasan mulai dari dalam, lalu kemudian mengekspresikan diri keluar secara cerdas? Pahamkah Anda pertanyaan saya? Kebebasan hanya ada bila tidak ada kebingungan di dalam batin saya, ketika secara psikologis dan religius saya tidak terperangkap dalam perangkap apa pun -- pahamkah Anda? Ada tak terhitung banyaknya perangkap: guru, juruselamat, pengkhotbah, buku-buku bagus, para psikolog dan psikiater; mereka semua perangkap.

Dan jika saya bingung dan terdapat ketidaktertiban, tidakkah pertama-tama saya harus bebas dari ketidaktertiban itu sebelum saya bicara tentang kebebasan? Jika saya tidak punya hubungan dengan istri saya, suami saya atau orang lain -- oleh karena hubungan kita berdasarkan pada citra-citra -- terdapat konflik yang tidak terhindarkan bila terdapat pemisahan. Jadi tidakkah saya harus berangkat dari sini, di dalam ini, dalam batin saya, dalam hati saya, agar bebas sepenuhnya dari semua ketakutan, kecemasan, keputusasaan, dan kepedihan dan luka-luka yang kita alami melalui ketidaktertiban psikis tertentu? Amatilah sendiri semua itu, dan bebaslah dari itu!

Tetapi tampaknya kita tidak punya energi, kita pergi kepada orang lain untuk memberi kita energi. Dengan bicara kepada seorang psikiater kita merasa lega -- pengakuan dan sebagainya. Selalu bergantung pada orang lain. Dan ketergantungan itu mau tidak mau menghasilkan konflik dan ketidaktertiban. Jadi kita harus mulai memahami kedalaman dan keluhuran kebebasan; kita harus mulai dengan apa yang paling dekat, diri kita sendiri. Keluhuran kebebasan, kebebasan sejati, kemuliaan, keindahannya, ada di dalam diri kita apabila terdapat ketertiban sempurna. Dan ketertiban itu datang hanya apabila kita menjadi cahaya bagi diri kita sendiri.

[Brockwood Park, 2nd Question & Answer Meeting, 4th September 1980 - 'Freedom']


Sumber : wall di fb pak Hudoyo Hupudio